Jaket Biru Penulis

Beberapa hari yang lalu penulis dapet undangan nikahan temen lalu dapet bujukan setan buat nulis di blog ini.

Udah ngarasa semakin tua karena dapet beberapa undangan nikahan temen-temen seangkatan. Rada bingung, mau dateng pasti ditanyain “kapan nyusul?”, pertanyaan klasik seperti ini yang agak sulit di jawab, mudah sebenarnya bilang bulan dan tanggal, tapi tidak mudah mengakatan dengan siapa kita akan bersanding pada bulan dan tanggal itu, ahh.. sudahlah.

id penulis
Pada akhirnya gue putusin dateng juga di acara kondangan itu, dengan kemungkinan resiko diatas. Tapi, tapi Ee.. tapi gue punya masalah dengan pilihan baju, karena gue cuma punya beberapa potong baju dan celana. Beberapa udah kepake dan belum di cuci.  

Gue lanjut bongkar lemari pakaian gue dapet hem panjang lama gue warna merah dengan motif kotak-kotak dan sedikit warna hitam pada garis kotak-kotaknya, agak  mirip baju kotak-kotak jokowi tapi beda, Ya pokoknya begitu. 

Lega setelah dapet baju, kini giliran celana yang bikin susah, susah gue gini, setiap gue punya celana pasti selalu robek pada bagian saku depan kanan kiri. 

jika masukin barang kesaku pasti akan merayap pelan melewati paha dan terkapar didekat mata kaki, gue gak tau apa penyabab saku celana gue bolong semua, ini sedang di investigasi kepolisian setempat. 

Itu pula jadi salah satu alasan gue sering bokek (alibi). Dapet pula celana, dengan robek pada bagian dalam saku yang kemudian ini jadi masalah baru lagi buat gue, gue bingung harus naruh handphone dan kunci karena saku celana yang bolong dalamnya. 

Setengah melamun tapi gak mikir Cuma meratapi saku celana, lirih terdengar bisikkan entah dari mana bisikan itu, yang jelas kata pada suaranya bikin gue bahagia dan terpecahkan pula maslah saku celana yang bolong, bisikan itu meberi saran bukan bujukan untuk sambangi outlet pakaian terdekat, bukan.Bisikan itu terdengar seperti mengucapkan kata jaket, jaket, jaket.

Dengan sigap gue taruh baju dan secelana di atas kasur, gue kembali bongkar lemari pakaian, mata gue berbinar melihat tumpukan beberapa potong jaket, tapi, tapi Ee.. tapi setelah gue coba satu per satu gue ketemu masalah yang sama ya itu bolongnya saku pada semua jaket gue. Kutukan apa ini tuhan??

Gue keluar kamar, menuju ruang tengah rumah. Diruang yang panjangnya 6x8 meter itu gue dapati lemari pakaian keluarga di dalamnya ada beberapa baju lama keluarga yang di simpen jadi satu dan ditumpuk pada beberapa sap. 

Gue bongkar lagi isi lemari itu penuh semangat dan harapan untuk menemukan sesuatu, minimal jaket yang pantas pakai, itu udah bikin gue bahagia. 

Gue lihat sesuatu pada pojok kira di sap kedua, baris kedua dari atas, gue dapati sebuah lipatan kain warna biru, gue pegang perlahan terasa sedikit tebal dan halus, gue tarik lipatan berwarna biru itu. 

Dan, jrenggg...!! setelah gue buka dan sedikit pengamatan ala pakar politik *halah apasih!*

Ya itu sebuah jaket dengan warna dasar biru, dan warna putih pada bagian leher juga pada ujung lengan, serta dua garis lurus dari atas bahu sampai pergelangan tangan juga berwarna putih. Itu adalah sesuatu yang dulu pernah gue pakai, gue bangga dulu pakai itu, jaket berharga masuk dalam lemarai pakaian lama keluarga gue, lalu siapa yang naruh? “tanya gue dalam hati”.
Jaket itu mengingatkan kembali pada waktu-waktu yang telah lalu, ngingetin kamu, iya kamu, *semoga ini kamu yang baca* ngarep. Ngingetin temen-temen satu kontrakan dulu. Cerita panjang jaket biru ini kembali berteduh pada ingatan ku yang kehujanan saat ini.
Jaket biru sebuah kado yang hangat dari mu sore itu dirumah kontrakan di Jln. Tentara pelajar, solo. Kamu dan temen-temen mu, iya kamu. Mendobrak pintu kayu berwarna coklat dengan membawa kue kranjang dan kado. 

id penulis
Aku terhentak kaget bukan kepalang karena aku tak berpakaian di ruang tamu, em.. maksud ku tak pakai baju, eh.. Cuma pakai celana, Ahh.. pokoknya begitu. Melihat mu masuk dengan buah tangan yang berjubel seperti itu segera gue lari ke kamar dan pakai baju. Ku temui kamu dengan senyum mesra “menurutku waktu itu”.

Kamu sodorkan kue dengan lilin menyala diatasnya kau pinta aku untuk menuipnya dan berdoa sebelumnya. setelah kedatangan mu yang mengagetkan ku, masih kau pinta pula aku meniup lilin dan berdoa, pinta mu sungguh merepotkan. Tapi ku tiup juga lilin itu seperti pinta mu, ya seperti yang kau pinta “seingatku waktu itu”

Kau bilang “Selamat Ulang Tahun ya” kalau tidak salah waktu itu. Muncul juga para cecunguk satu kontrakan dari arah dapur yang hanya mengekan koas dalam, menyapa mu dan menyalami ku lalu memberi ku ucapan selamat ulang tahun dan mengamankan kue bawaan mu. 

Keterlaluan memang mereka, dengan mengenakan dresscode koas dalam warna putih di acara ultah gue, mereka juga membumi hanguskan kue berbalut coklat dan bertabur buah cerry diatasnya. 

Hanya sepasang lilin yang tersisa, terkapar disamping alas kue putih metalic itu.

Kini semua menjadi potret abadi dalam ingatan gue, kamu, iya kamu, dan cerita panjang jaket biru ini, para cecunguk penghuni kontrakan, dan sebuah kalimat akhir dari mu ketika mengucapan selamat ulang ke gue, adalah “semoga semakin tambah sayang pada ku” ucap mu waktu itu.
 
Sampai sekarang gue masih sayang sama kamu, iya kamu. Jaket biru dari mu masih gue pakai pada acara kondangan kemaren, sakunya gak bolong, handphone dan kunci motor aman di dalamnya, yang pasti jaket biru dari mu terasa hangat membalut tubuh ku, walaupun gak sehangat peluk mu kala itu. 

Sendirian dateng diacara kondangan itu gue ngerasa ada kamu, iya kamu, mungkin karena jaket biru dari mu terasa menggandeng tangan ku. Terasa dekat, dan aman tanpa ada pertanyaan seperti di atas. Terima Kasih, Kamu.

4 comments:

Powered by Blogger.