Secangkir Kopi Dan Sepotong Sore

Lihatlah orang-orang diluar sana mereka rela berpanas-panasan,  berdesakan di antara kepungan dengung suara mesin dan kepulan asap kendaraan, bukan tanpa satu tujuan,

--Mungkin juga dengan beribu impian-- "aku menyela sebelum kamu melanjutkan kalimat berikutnya"

Id Penulis Blog

Sore itu di seberang Jalan Slamet Riyadi, di sebuah kedai kopi kau tampak serius mengaduk-aduk secangkir kopi pesanan mu. tanpa kau pedulikan seliweran orang-orang disekitar mu, tapi sesekali kau lemparkan pandangan mu kearah jalanan yang tampak lucu ketika jam-jam sore selesai kantor.
 
Ya, Jalan Slamet Riyadi memang tampak lucu ketika pagi dan sore hari

Kau pilih kedai kopi yang tak jauh dari tempat kerja mu dan memintaku untuk menemami beristirahat setelah delapan jam kau tunaikan kewajiban sebagai seorang karyawan di sebuah kantor bank ternama di negara ini. sambil menunggu jalanan lengan, dan kita sama-sama tahu bahwa itu hal yang mustahil.

Setelah aku potong kalimat mu tadi, kamu tak banyak bicara kamu lebih menikmati kopi pesanan mu, kalosi toraja, kopi yang menawan menurutku.

Aku masih ingat saat mengejek mu ketika pertama kali memesan kopi Banci di Starbucks, muka mu memerah, begitu juga lengan ku yang kau serang bertubi-tubi dengan cubitan-cubitan kecil mu yang senewen saat ku lempar kalimat ejekan.

Setelah kejadian itu kamu sekarang lebih sering memesan kopi original dengan sedikit gula, yang setau ku memang kamu tidak begitu suka dengan minuman yang terlalu manis. berbeda dengan aku.

Pada kesempatan berikutnya di kedai yang sama aku sempat kepede-an karena mengetahui selera kopi mu berubah. tapi aku salah, ketika ku tanya kan soal kopi pesanan mu yang berbeda waktu itu. kau jawab bukan sepenuhnya karena ejekan ku, tapi karena kopi itu sendiri.

Di campur dengan apapun, kopi tetaplah kopi, aroma dan rasa pahit nya akan tetap ada sekali pun di mix dengan berbagai rasa.

5.25 angka yang di tunjuk jarum jam pada dinding belakang meja bar barista kedai ini, yang berada ditengah bangku-bangku para pengunjung, kebetulan kau pilih tempat duduk agak pojok samping kiri  depan meja bar barista dekat dengan jendela yang mengarah ke jalan Slamet Riyadi.

Sekarang hampir memasuki waktu petang dan suasana di kedai ini semakin ramai pengunjung, begitu juga jalan di luar sana. lampu-lampu di pinggir jalan mulai menyala, sebagian tertutup dedaunan yang mulai rimbun, sinarnya pendar diantaranya. ditambah dengan mendung di langit kota solo yang tidak santai.

Melihat kamu yang banyak diam sore ini pikiran ku di penuhi berbagai prasangka. tak bisa kutahan lebih lama lagi kekhawatiran ini, aku mencoba memulai obrolan lagi dengan menanyakan pekerjaan mu dikantor, dan sepertinya aksi spontan ku ini tidak berhasil membuka obrolan yang ku pikir akan panjang.

Tapi juga tidak bisa dianggap gagal karena kau menjawab dengan singkat dan seklebat dengan kalimat "biasa aja" sambil mengankat shot warna putih dengan tubuh tegak dan kepala sedikit tertunduk, lengan mu mengarahkan tepat kearah bibir tipis mu dan kau teguk kalosi toraja pesanan mu.

kopi yang sama juga kupesan, entah karena jawaban mu yang seklebat ku dengar atau karena aku terlalu menyukai cara mu mengangkat shot membuat ku mengikuti gerakan mu. dengan cepat ku raih shot mungil warna putih itu, ku minum kopi pesanan ku.

Mungkin kamu merasakan gelagat ku yang aneh dan tampak kebingungan.

tiba-tiba kamu berkata, "kopi itu benda yang aneh ya". berhenti di situ kalimat mu, kemudian hening sejenak, suasana yang membuat ku terusik dan mengandung rasa penasaran dengan kalimat mu berikutanya

Tak mau menunggu lama lalu ku sodorkan pertanyaan "aneh gimana?"

Iya, aneh. kau mulai melanjutkan kalimat mu.

ketika masak di pohon, kulit yang membungkusnya dengan warna merah, terasa sangat manis saat dicecap lidah, yang kelak akan dibuang saat memasuki proses pegolahan, bijinya yang kembar dengan dua sisinya yang terbalut kulit daging juga tidak terlalu pahit, tapi setelah melalui proses panjang dan kompleks pada akhirnya menjadi bubuk yang siap sedu sifat aslinya muncul, pahit dan wangi.

Demikian pula hidup ini, pahit manisnya kita harus jalani, di aduk-aduk dengan berbagai masalah di tambah manis kebahagian, hidup ini melebihi kata sempurna. 'ucap mu', sambil tersenyum kecil dengan tatapan yang serius kearah ku kamu berkata "ternyata apaadanya itu jauh lebih nyaman"

Aku yang kebingungan mecoba memahami kata-kata mu, kemudian ku lempar senyum menyambut tatapan mata mu sambil meng-Aminkan kalimat yang ku dengar barusan keluar melewati bibir mungil mu.

Akhir dari sore itu menuju petang di akhir kalimat mu, kau berkata "Hidup terlalu sempurna untuk sekedar di mengerti" lalu berlanjut dengan pertanyaan"Sudah berapa menit kita duduk di sini?"  

Aku tersenyum, kamu tersenyum kita sama-sama tersenyum entah bagaimana senyum selalu menular.

"waktu merekam ingatan dan kenangan, dan secangkir kopi melengkapinya"

sesap terakhir pada secangkir kopi, kau sambut dengan Ajakan pulang, dan sopir yang datang tepat waktu untuk menjemput. tiba-tiba arah pulang via Slamet Riyadi menjadi terasa lengan disambut bulir air hujan, begitu juga dengan arah menuju hati mu, terpantau ramai lancar. pada sepotong senja kala itu.

Kei..
Di potongan sore, pada suatu hari nanti giliran ku mengajak mu menikmati secangkir kopi,
kau mau kan.?

10 comments:

  1. Pada sepotong sore, selera kopi mu berubah, ;)

    ReplyDelete
  2. Di tunggu potongan kisah berikutnya

    ReplyDelete
  3. Secangkir kopi buat sang penulis ;)

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. Terlihat seperti mas'e porwodadi heuheuheu

      Delete
  5. Lumayan nih tulisannya. Baca sambil ngopi sore-sore

    ReplyDelete
  6. Bagus tulisannya ninggalin jejak kopi di sore hari hehehe

    ReplyDelete

Powered by Blogger.