Waktu: Puncak Kangen


Hai kei..
ini adalah surat kedua ku, surat pada puncak kangen setelah pertemuan sore itu di kedai kopi sebrang jalan selamet riyadi kota solo. :)
kau masih ingatkan?

dan aku masih bingung dengan kenyamanan mu yang apa adanya, maaf bila aku sulit mengartikan itu.

kau tau berapa nilai matematika ku waktu sekolahkan? mungkin nilai matematika ku tak ada hubungannya dengan kalimat mu sore itu, menurut mu.

surat kedua id penulis
Waktu Puncak kangen

"anggap saja ini soal kekeliruan cara pandang"

Dan akan banyak lagi tentang kekeliruan cara pandang lainnya

Misalnya tentang intensitas pertemuan kita yang teramat sangat jarang akhir-akhir ini.

"padahal kita satu kota, kei.."

Menurut mu, pasti ini hanya soal waktu. tapi menurut ku,
ini adalah tentang satu terakhir dari tujuh, yang akan di tangisi oleh sebagian orang termasuk aku, jika menjumpai embun di senin pagi. kau pasti tak akan setuju dengan ku.


Jika kuteruskan kau pasti akan mengajak ku berdebat soal waktu.
dan aku kesulitan mengeja apalagi menterjemahkan tentang waktu.
setau ku waktu adalah tentang lama, sebentar, semenit, duamenit, dll.
atau persis satu bulan perjumpaan kita di kedai kopi itu.

"Maaf kalau tulisan ini pada akhirnya jadi sok serius"


Tapi kei.. dalam posisi di puncak kangen yang paling dahsyat, apapun bisa jadi serius lho. termasuk soal waktu yang masih misterius bagi ku. sepertinya waktu ini memperbudak jarak dan selalu menambah rasa kangen ku melejit di posisi puncak paling dahsyat, tanpa tau rumus bagaimana cara menguranginya.

masih soal waktu kei
saat kutulis surat ini, playlist pada windows media player ku sedang memutar lagu resah milik band payung teduh.


selama ini kuping terasa nyaman dengan aplikasi wmp dengan genre musik folk. dari pada aplikasi pemutar mp3 lainnya, kei.. ini adalah lagu yang bersahabat dengan telingaku ku, di tengah gempuran boyband dan girlband pada industri music negara ini. ah.. masa bodoh dengan mereka.

terlepas dari gempuran itu, yang tak ingin ku bahas panjang lebar pada surat ku ini.
sepertinya lagu dengan judul Resah ini mengerti bahwa dahsyatnya kangen ku pada mu sedang tersandra waktu

Maaf kalau aku ter lalu melo kali ini, kei.. 

aku tau kau pasti akan mengerutu bila tak ku tulis liriknya pada surat ku ini,
baiklah akan aku tulis lirik lagunya pada surat ini kei..


Aku ingin berjalan bersamamu
dalam hujan dan malam gelap
tapi aku tak bisa melihat matamu.

Di bait pertama diatas masih soal waktu kei, waktu sering kali menkhianati jarak, tak terbantahkan.


Aku ingin berdua dengan mu
diantara daun gugur
aku ingin berdua dengan mu
tapi aku hanya melihat keresahan mu

Sekarang aku sedang menjalani salah satu bukti di bait kedua itu kei, dalam gagasan kesadaran persepsi terhadap waktu.

Apa yang aku rasakan dengan apa yang kamu rasakan saat ini pasti berbeda,
padahal waktu yang kita habiskan sama, kadang aku hampir frustasi memikirkan
Bagaimana caranya waktu bisa memberi kehidupan yang berbeda bagi setiap orang.?


Aku menunggu dengan sabar
di atas sini melayang-layang
tergoyang angin menantikan tubuh itu

Kei..
aku akan menunggu pertemuan kita berikutnya, aku sudah tidak sabar untuk itu

sampai sekarang aku masih bertahan dan menjalani hari-hari ku dengan gempuran boyband emm.. maksudku gempuran kangen dengan sangat dahsyat dari waktu ke waktu. tak bisa kujelaskan lebih banyak lagi tentang kangen ku kei, itu karena waktu.

"puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling telepon, SMS, BBM, tapi keduanya diam-diam saling mendoakan” - Sudiwo Tejo-




2 comments:

Powered by Blogger.